haloooooooo
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Vaksinasi Bukan (Hanya) Monopoli Bayi dan Anak

Siapa yang tak mengenal kata imunisasi. Bila mendengar istilah ini, mungkin gambaran yang muncul dalam setiap benak kita adalah kegiatan pemberian vaksin pada bayi dan anak, baik melalui suntikan ataupun dengan cara diminum. Tapi, tahukah Anda, sesungguhnya imunisasi tidak dimonopoli semata untuk bayi dan anak. Orang dewasa pun, ternyata butuh imunisasi.
Selama ini mungkin berkembang asumsi bahwa tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tidak lagi memerlukan vaksinasi. Asumsi ini ternyata keliru. Mengapa? Ternyata dengan semakin bertambah nya usia, sistem kekebalan tubuh pun menurun sehingga dibutuhkan imunisasi untuk membentengi tubuh dari serangan penyakit.
Menurut American Society of Internal Medicine, diketahui bahwa imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dibandingkan dengan anak. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa terdapat peluang besar untuk mencegah kematian pada orang dewasa melalui imunisasi.
Sayangnya, tak banyak orang dewasa itu sendiri yang mengetahui tentang imunisasi dewasa. Pun, manfaat imunisasi pada orang dewasa ternyata belum sepenuhnya diyakini oleh petugas kesehatan, apalagi oleh orang awam. Selama ini, khususnya di Indonesia, kebijakan imunisasi lebih menitikberatkan pada masalah bayi dan anak-anak. Memang tak dapat disalahkan sepenuhnya, mengingat masih tingginya angka kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) pada bayi dan anak, yakni sekitar 1.7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain TBC, Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini, tak pelak mengakibatkan peranan imunisasi dewasa menjadi terabaikan. Selain itu, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat menyebabkan minimnya pengetahuan masyarakat pada imunisasi orang dewasa.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), pada tahun 2003, telah mengeluarkan sebuah panduan bersama mengenai imunisasi pada orang dewasa. Panduan ini dikenal sebagai Konsensus Imunisasi Dewasa. Konsensus ini sendiri telah diperbaharui pada tahun 2008.
Penyakit Apa Saja yang Dapat Dilakukan Imunisasi?
Imunisasi yang dibutuhkan orang dewasa, antara lain, agar terhindar dari penyakit-penyakit infeksi, seperti influenza, tetanus, difteri, hepatitis A, hepatitis B, tetanus, Measles Mumps Rubella, tifoid, pneumokokus, meningokok, yellow fever, Japanese encephalitis, rabies, dan kanker serviks.
Siapa Saja yang Perlu Diimunisasi?
Ada sejumlah kelompok orang dewasa yang sebaiknya mendapatkan vaksin. Misalnya orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun (sebagian mengatakan usia di atas 65 tahun). Contoh vaksin yang diperlukan misalnya influenza. Kelompok usia ini rentan mendapatkan penyakit sebangsa flu karena sistem kekebalan tubuh yang sudah menurun.
Kelompok berikutnya adalah orang dewasa dengan penyakit menahun (kronik) meskipun usia mereka belum digolongkan usia lanjut. Mereka dengan penyakit-penyakit kronis misalnya penderita penyakit paru-paru kronis, kencing manis (diabetes melitus), dan gagal ginjal, rentan mendapatkan penyakit dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang menurun akibat penyakit ini.
Kelompok orang dewasa lainnya yang perlu mendapatkan imunisasi adalah para petugas kesehatan. Mereka ini memerlukan vaksinasi karena pekerjaan mereka sangat berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya hepatitis B ataupun influenza.
Para pekerja yang bergerak di bidang industri makanan, khususnya yang berperan sebagai pengolah atau penyaji makanan. Mereka, terutama yang bekerja dengan tangan telanjang, sebaiknya mendapatkan vaksinasi karena mereka dapat menjadi sumber penularan penyakit tertentu misalnya tifoid.
Kelompok lainnya adalah orang dewasa yang akan berpergian ke luar negeri. Misalnya para calon jemaah haji yang perlu bahkan wajib, mendapatkan vaksinasi meningitis. Atau mereka yang akan berangkat ke Afrika Selatan, sebaiknya mendapatkan vaksinasi Yellow fever.
Secara ringkas dari panduan konsensus imunisasi dewasa 2008, jenis vaksinasi yang dapat diberikan didasarkan pada riwayat paparan penyakit tertentu, risiko penularan penyakit tertentu, usia lanjut, status kekebalan tubuh atau imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian.
  • Riwayat paparan : Tetanus toksoid., Rabies
  • Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A, Tifoid, MMR.
  • Usia lanjut : Pneumokok, Influenza.
  • Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
  • Imunokompromais : Pneumokok, Influenza, Hepatitis B. Hemophilus influenza tipe B.
  • Rencana bepergian : Yellow fever, Japanese B ence­phalitis, Tifoid, Hepatitis A.
  • Jemaah haji : Meningokok ACYW 135., Influenza
Penting untuk diketahui, bahwa imunisasi dewasa belum ada program yang dibiayai oleh pemerintah seperti halnya kebijakan imunisasi pada anak. Karena itu penggunaan indikasi ini perlu mempertimbangkan keadaan individu yang akan diimunisasi. Misalnya, imunisasi pada usia lanjut perlu mendapat perhatian karena data-data tentang manfaat imunisasi influenza dan pnemokok pada usia lanjut menunjukkan bahwa imunisasi ini bermanfaat dan cost effective. Selain itu, imunisasi pada Heptitis B perlu mendapat perhatian meningat tingginya risiko penularan Hepatitis B di kalangan petugas kesehatan.

Home Kesehatan Anak/Balita Iritasi pada Kulit Bayi, Apa dan Bagaimana Mengatasinya Banner Iritasi pada Kulit Bayi, Apa dan Bagaimana Mengatasinya

www.balita-anda.com-baby_cryIritasi pada kulit bayi sering terjadi, beberapa keadaan dapat menjadi pemicu terjadinya iritasi, seperti:

* Pemakaian popok sintesis atau celana berlapis plastik yang lama tidak diganti, sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit akibat tertimbunnya urin atau kotoran yang mengandung amonia. Tertutupnya daerah popok meningkatkan suhu maupun kelembaban di daerah lipatan bokong makin memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia iritan tersebut. Bila berlangsung berulang-ulang pelindung kulit akan rusak, sehingga memudahkan berkembangbiaknya jamur, seperti Candida albicans.

* Pada daerah-daerah lipatan terutama pada bayi gemuk seperti daerah leher, lipat paha, lipat siku, bila terjadi penumpukan keringat yang terlalu lama maka akan mengiritasi kulit bayi. Peradangan berulang yang terjadi juga akan diperburuk dengan berkembangbiaknya jamur seperti Candida albicans.

* Bayi dengan riwayat keluarga alergi akan lebih sering dijumpai keluhan iritasi, seperti sisik halus di daerah kulit kepala akibat pemakaian produk kosmetika sampo ber-pH tinggi atau hair-lotion yang terlalu wangi. Dapat pula dijumpai hal serupa di daerah dada, punggung, perut akibat pemakaian minyak penghangat seperti minyak telon atau kayu putih yang digunakan terus-menerus di iklim panas.

* Kekeringan kulit bayi akibat pemakaian berulang sabun mandi yang mengandung antiseptik. Peradangan kronis akibat kontak bahan iritan lemah akan mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit, dengan akibat berkurangnya daya pertahanan alamiah kulit.

* Bayi baru lahir yang mengkonsumsi susu sapi formula dengan kadar pH tinggi terkadang dijumpai kemerahan di daerah sekitar dubur.

Bagaimana mengobatinya ?

1. Terpenting adalah pencegahannya, karena bila dicermati semua faktor penyebab iritasi pada kulit bayi dapat dicegah. Umumnya kelainan kulit baru timbul bila telah terjadi paparan yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

2. Hindari sementara pemakaian popok sekali pakai atau celana berlapis plastik selama peradangan. Pakailah popok kain tipis lembut yang bahannya menyerap keringat. Cuci daerah bokong dan sekitarnya setiap bayi buang air kecil atau buang air besar dengan sabun lembut untuk bayi, keringkan dengan handuk lembut ditepuk-tepuk pelan dan jangan digosok kasar. Hindari bedak saat kulit meradang.

3. Daerah lipatan yang meradang sering dikompres dengan waslap handuk yang dibasahi air, hindari pemakaian bedak untuk sementara waktu. Daerah lipatan sering dibuka dan diangin-anginkan. Bila berkeringat segera seka perlahan dengan waslap handuk yang dibasahi air, jangan digosok lalu dikeringkan dengan handuk. Pakailah baju longgar dari bahan katun yang tipis dan mudah menyerap keringat.

4. Bila dijumpai kulit bersisik dapat diberi krim pelembab khusus bayi setelah mandi. Jangan mandi dengan air terlalu panas berlama-lama. Pakailah sabun dan sampo khusus bayi. Untuk sementara waktu hindari penggunaan bedak atau berbagai produk kosmetik untuk bayi.

5. Jangan oleskan obat salep, krim atau minyak apapun di daerah yang meradang tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

6. Yang perlu diperhatikan dalah pencegahan. Iritasi pada kulit bayi lebih sering disebabkan oleh bahan iritan yang lemah seperti keringat, urin, feses, produk perawatan kulit yang salah penggunaannya, deterjen, atau cairan anriseptik dan mungkin kitapun punya andil untuk memaparkannya. Kadang-kadang timbulnya iritasi ditunjang oleh kondisi yang cocok untuk timbulnya peradangan seperti faktor kelembaban, panas, tertutup ataupun gesekan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More