haloooooooo

Senin, 20 Juni 2011

8 Mobil Unik Buatan Indonesia

Meskipun tidak seluruh komponennya asli Indonesia, tetap saja desain hingga perakitan, seluruhnya dikerjakan oleh tangan-tangan ahli bangsa Indonesia. Sepertinya, karena keadaan sarana transportasi di negara ini yang tidak begitu bagus, seperti kemacetan di kota besar, dan jalan jelek di daerah pedesaan, dibuatlah mobil yang sesuai untuk itu. Bisa dilihat dari bentuknya yang kecil, atau kemampuannya yang kuat di segala bidang. Berikut ke 8 mobil yang layak ditampilkan tersebut :
Mobil Kancil
Kancil (singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah) merupakan merek dagang terdaftar dari sebuah kendaraan angkutan bermotor roda empat yang didesain, diproduksi dan dipasarkan oleh PT. KANCIL (singkatan dari Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari). Pernah diharapkan sebagai pengganti (peremajaan) bajaj dan bemo karena keduanya tidak diizinkan untuk bertambah jumlahnya atau diproduksi di wilayah Jakarta.

Mobil Esemka


Mobil yang satu ini hebatnya justru dibuat oleh para siswa SMK. Mobil Esemka memiliki 5 jenis varian yakni SUV, pick up double cabin, sedan, pick up single cabin, dan van. Gambar di atas merupakan Mobil Esemka SUV buatan siswa-siswa SMK 1 Singosari Malang yang dikerjakan tidak kurang dari 50 siswa SMK Singosari Malang dan menghabiskan biaya sebesar Rp. 175 Juta dalam pembangunan mobil ini. 5 jenis mobil Esemka yang lainnya dikerjakan oleh SMK-SMK lainnya. Untuk harganya, anda cukup mengeluarkan uang 80 Juta saja untuk mendapatkan mobil ini.
Mobil Komodo


Nama Komodo disematkan bukan karena bentuk mobilnya yang seperti Komodo, namun lebih pada fungsinya yang seperti Komodo, yakni selain kuat, Komodo bisa hidup di dua alam sekaligus. Seperti namanya, jangankan di lumpur, di air sekalipun Komodo sudah teruji kehandalannya. Mobil Komodo adalah garapan PT Fin Tetra Indonesia asal Cimahi, Jawa Barat. Komodo hanya mampu membawa 2 orang penumpang.
Mobil Tawon


Mobil imut ini buatan PT Super Gasindo Jaya. Mobil Tawon ini sudah mampu membawa 4 orang dan dibanderol dengan harga 48 Juta. Kapasitas mesinnya 650 cc dan mampu mencapai kecepatan hingga 85 km/jam! Diperkirakan mobil ini akan menggantikan bajaj2 di Jakarta dan juga akan diproduksi secara massal.
Mobil Arina


Mobil Arina ini kapasitas mesinnya hanya 150 cc, kecepatannya mampu mencapai 70 km/jam, namun konsumsi BBMnya cukup hemat, yaitu untuk 40 km hanya diperlukan 1 liter bensin.
Mobil Arina, merupakan singkatan dari Armada Indonesia, badan hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mobil mikro Arina akan terus dikembangkan sehingga menjadi 100 persen buatan negeri. Jika sudah 100 persen lokal, harganya bakal berada di bawah Rp 30 juta.
Mobil GEA


GEA merupakan singkatan dari Gulirkan Energi Alternatif. Nama GEA diberikan karena mobil yang bentuk dan spesifikasi mesinnya sangat mirip Nano tersebut memakai bahan bakar gas yang dijamin bisa ramah lingkungan. Jika diberi izin pemerintah, PT Inka memprediksi bisa memberi harga GEA pada banderol Rp 45 juta – Rp 50 juta per unit. Mesin GEA ini berkapasitas 650 cc dan telah diuji telah menempuh 10 ribu km dengan kecepatan 85 km per jam.
Mobil Wakaba


WAKABA merupakan singkatan dari Wahana Karya Bangsa. Pembuatan mobil ini dilakukan di Universitas Pasundan dengan melibatkan tiga orang peneliti dan 12 mahasiswa universitas Pasundan. Dana pengembangannya selain dari Pemda Jawa Barat, juga dari kementrian ristek serta Unpas dan Working Group yang menghabiskan dana lebih dari Rp 200 juta. Mobil kecil itu bermesin bensin 500 cc. Mesin yang dipakai mesin buatan BPPT Kemetrian Riset dan Teknologi, dengan tingkat kecepatan yang low speed.
Mobil Marlip


Selain mobil-mobil berbahan bakar konvensional di atas, ternyata jauh-jauh hari anak-anak Indonesia sudah merancang mobil listrik. Adalah Mobil bertenaga listrik produksi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), disebut MARLIP (marmut listrik LIPI), yang merupakan salah satu wujud solusi ilmu pengetahuan dan teknologi atas krisis energi di negeri ini. Marlip di antaranya telah digunakan di rumah sakit, lokasi wisata, markas kepolisian, dan lapangan golf. Marlip juga digunakan saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung. Namun, pemanfaatannya tetap belum signifikan.
Spesifikasi teknis Marlip adalah berkecepatan 40 km/jam untuk jalan datar dan 20 km/jam untuk tanjakan, jarak tempuh 300 km, masa aktif delapan jam, waktu pengisian baterai tercepat 2,5 jam (rata-rata 4-5 jam), dan berat kosong 300 kilogram untuk jenis city car dan smart. Harga pesanan Rp 40 juta per unit.

BEKAL UNTUK ANAK/SISWA DARI ORANGTUA DAN GURU




 Keprihatinan terhadap moral generasi muda saat ini, tidak hanya menjadi pemikiran dan kekhawatiran dari kalangan pendidik saja, namun kalangan masyarakat juga memiliki kekhawatiran yang sama. Sebab, belakangan ini kerap terjadi perilaku negatif anak seusia SMP dan SMA yang melakukan tindakan negatif didalam dan luar sekolah, pendidikan moral bagi anak seharusnya memang dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian sekolah dan dalam pergaulan. Sebab, pengaruh negatif yang terjadi dalam keluarga seringkali menjadi pemicu perilaku anak diluar.“Seharusnya dalam rumah tangga, dalam hal ini orang tualah yang pertama kali memberikan bekal moral yang baik bagi putra-putrinya, sehingga mereka merasa dibimbing, dikasihi dan diayomi. Dan yang tidak kalah pentingnya bekal keimanan yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini,”ujar KH. Khairul Amin.Sedangkan di Sekolah maupun Pondok Pesantren tetap memiliki tanggung jawab membina moral anak untuk lebih baik. Misalnya, jika ada tanda-tanda anak memiliki kebiasaan kurang penurut, harus mendapat perhatian khusus bagaimana anak diasah memiliki kebiasaan patuh terhadap guru maupun pengasuh.Sebab, jika hal kecil seperti itu tetap dibiarkan, akan tumbuh sikap pembangkangan pada diri anak. Ironisnya, apabila mereka mencari pergaulan diluar yang bisa menerima sikap dia sebagai anak yang tidak mau menjadi penurut. Cara pelarian seperti inilah yang kemudian secara perlahan dapat merubah perilakunya menjadi kriminal.KH. Khairul Amin mencontohkan, perilaku anak yang tidak memiliki bekal imam yang kuat, mulai melakukan hal-hal negatif, seperti mencuri milik temannya, berkelahi dan sebagainya. Bahkan, anak SMA yang kadang tawuran atau sampai membunuh teman seusianya, seperti perilaku kriminal orang dewasa. Jadi, sejak dini perilaku anak harus terpantau, agar tidak berkembang lebih buruk.
Anak adalah titipan bagi setiap orangtua yang suatu saat akan diambil kembali oleh Penitip-nya. Kemudian Sang Penitip akan meminta pertanggungjawaban atas titipannya tersebut. Sang Penitip akan menginterogasi mengenai titipan tersebut, apakah ia telah dijaga dengan sebaik-baiknya, apakah ia telah diberikan segala sesuatu yang terbaik, dan sebagainya.
Itulah sebabnya mengapa baik-buruknya anak merupakan tanggungjawab yang diemban oleh setiap orangtua. Dan orangtua punakhirnya berkewajiban untuk senantiasa memperhatikan anak-anak mereka. Paling tidak, beberapa hal yang harus mereka perhatikan dari anak-anak mereka adalah sebagai berikut:
1.   Aqidah
Pondasi utama yang harus didirikan oleh orangtua bagi anak mereka adalah pondasi aqidah. Dengan pondasi aqidah inilah maka seorang anak akan tumbuh dan berkembang dalam koridor yang aman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pondasi ini di antaranya adalah mencarikan lingkungan dan teman yang baik, memperhatikan kegiatan yang dilakukan sang anak, dan senantiasa memberikan arahan-arahan yang positif bagi anak.
Ajarkan anak untuk mengenal Sang Khalik melalui pendidikan agama. Kemudian ajarkan anak mengenai bagaimana beribadah kepada Sang Khalik dan apa saja yang menjadi perintah atau larangan Sang Khalik.
Bekal aqidah yang benar akan membawa si anak tetap berada pada koridor yang benar dalam setiap langkah kehidupannya.
2.   Moral
Bekal selanjutnya yang juga harus diperjuangkan oleh setiap orangtua untuk anak mereka adalah bekal moral. Karena anak adalah tanggung jawab orangtua, maka perkara moral sang anak pun menjadi salah satu tanggung jawab setiap orangtua.
Baik buruknya moral si anak merupakan gambaran bagaimana didikan orangtua mereka. Baik buruknya moral si anak akan berbicara apakah orangtua mereka telah memberikan bekal moral dengan sebaik-baiknya atau tidak.
Sebagai orangtua yang bermoral dan bertanggung jawab, tentunya tidak akan membiarkan sang anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang amoral atau bermoral bejat.
Tanamkan kepada anak mengenai kewajiban untuk senantiasa berkata jujur, senantiasa menjaga dan memperhatikan lisan mereka. Bekali anak-anak dengan pendidikan moral yang sebaik-baiknya agar kelak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berkhlak mulia.
3.   Mental dan Intelektual
Orangtua senantiasa menuntun anak-anak mereka agar senantiasa menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan akal mereka.
Kenalkan dan jelaskan kepada si anak mengenai apa-apa saja yang dapat menjadi sumber penyebab rusaknya jiwa dan akal manusia sehingga mereka dapat menjaga diri dan menghindarkan diri dari beberapa hal yang menjadi sumber perusak tersebut. Anak akan dapat mengantisipasi faktor-faktor perusak yang telah dijelaskan tersebut sejak dini.
Suguhi anak dengan bacaan-bacaan atau tontonnan yang bekualitas, yang tidak hanya mengandung unsur kesenangan (terlebih lagi unsur yang bersifat merusak), tetapi juga mengandung unsur pendidikan.
Jika anak telah mengetahui faktor-faktor yang dapat merusak mental dan akalnya, kemudian mereka dapat menghindarinya sejak dini, maka mereka pun pada akhirnya akan lebih mudah untuk dapat terus meningkatkan dan mengembangkan kualitas mental dan intelektualnya.
4.   Jasmani (Fisik)
Yang sudah pasti tidak boleh dilupakan oleh orangtua adalah memberikan nafkah jasmani bagi anak-anak mereka. Dan yang perlu ditekankan di sini adalah, bahwa nafkah jasmani tidak hanya sebatas pada nafkah dalam bentuk makanan, minuman, dan atau pakaian semata, tetapi juga olah jasmani atau olah raga.
Jangan pernah lupa untuk mengajarkan anak agar senantiasa membiasakan diri dengan olah raga. Karena olah raga merupakan salah satu hak jasmani yang harus diberikan bagi tubuh atau fisik setiap manusia.
Ajarkan pula kepada anak-anak mengenai hal-hal yang dapat merusak fisik atau jasmani mereka, kemudian tekankan kepada mereka untuk senantiasa menghindarinya.
5.   Kejiwaan (Psikologis)
Setiap orangtua hendaknya menanamkan sifat percaya diri dan mandiri kepada si anak sejak dini, sehingga mereka tidak akan memiliki sifat malu, minder, atau manja yang berlebihan yang akan menyulitkan si anak untuk membaur dalam lingkungan, terlebih lagi dalam lingkungan yang baru.
Selain itu, orangtua juga harus senantiasa memperhatikan sifat-sifat negatif anak (misalnya sifat egois, pemarah, dan lain-lain). Kemudian orangtua harus senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengikis sifat negatif tersebut dari kejiwaan si anak, tentunya dengan kesabaran dan ketekunan.
6.   Hubungan Sosial
Yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua harus mengajarkan kepada anak-anak mereka mengenai tata cara hidup bermasyarakat, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk homogen yang tidka dapat hidup sendiri. Biasakan anak-anak untuk membaur dan bersosialisai dengan teman-teman mereka dan lignkungan sekitar.
7.   Rohani
Jangan pernah melupakan bimbingan rohani bagi anak-anak. Karena keadaan rohani seseorang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas kejiwaan, mental, dan fisik mereka.

TEMPAT - TEMPAT MUSTAJAB DI MASJIDIL HARAM DAN MASJID NABAWI


Secara umum keseluruhan tempat di Masjidil Haram adalah mustajabah untuk berdoa. Insya Allah, jika Anda berdoa dengan sungguh-sungguh dan tidak bermaksiat kepada Allah SWT, dimanapun, di seluruh sisi Masjidil Haram, Allah akan mengabulkan doa Anda. Namun demikian ada 3 hal yang patut dipahami pula bagi kita ketika kita berdoa kehadirat Allah SWT.
Pertama ada doa yang dikabulkan Allah secara langsung. Ada pula doa yang akan dikabulkan ketika di akhirat nanti.
Ada pula doa yang diganti dengan kebaikan/ rejeki yang lain. Kita harus paham pula bahwa rejeki Allah kepada kita sangatlah luas, tidak terbatas pada harta benda atau materi, kehidupan yang tentram, sehat lahir batin, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, anak-anak yang sholeh merupakan rejeki pula, betul tidak? (betul, betul, betul! kata Ipin)
Oleh karena itu kita wajib menyakini bahwa doa kita kehadirat Allah SWT akan dikabulkan-Nya. Karena Allah sudah berjanji dalam Al Quran, " 'ud'uuni astajib lakum" yang artinya "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan". Kita tidak boleh ragu atas doa-doa kita kepada Allah SWT, percayalah janji Allah pasti akan ditepati! Allah SWT tidak pernah ingkar janji!
Masjidil Haram memang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan masjid-masjid dimanapun. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW sendiri pernah menyebutkan keistimewaan Masjidil Haram ini seperti sabda Beliau " Sholat di Masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah 1000 kali lebih utama daripada sholat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram. Karena sholat di Masjidil Haram ialah lebih utama 100.000 kali daripada sholat di masjid lain".
Bisa dibayangkan betapa nikmatnya sholat di Masjidil Haram bahkan dalam buku Sejarah Kota Makkah disebutkan, jika di hitung secara matematis sholat di Masjidil Haram nilai keutamaannya sama dengan sholat di tempat lain salama 55 tahun 6 bulan 22 hari. Wao... hebat ya..? makanya, Ayo.. segeralah menunaikan ibadah haji, ikutilah moto kami " Berhajilah selagi Muda!"
Anda tidak akan rugi se-sen pun!
Disamping itu ada keistimewaan lain dari Masjidil Haram. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan 120 rahmat selama 24 jam terus-menerus. Sebanyak 60 rahmat akan diberikan kepada mereka yang sedang melaksanakan thawaf, 40 rahmat akan diberikan kepada mereka yang sholat dan 20 rahmat akan diberikan kepada mereka yang memandangi Ka'bah.
Saran kami kepada Calon jamaah haji selama berada di Masjidil Haram perbanyaklah Thawaf dan sholat serta pandangilah Ka'bah karena Anda akan mendapatkan 120 rahmat atau kebaikan secara kontan dari Allah SWT. Selain itu jika Anda berada di Masjidil Haram jangan pernah memalingkan muka dari Ka'bah, tataplah Ka'bah sepuas-puasnya.
Ka'bah berada pada garis lurus dengan Baitul Makmur yaitu pusat ibadah para malaikat jika memandanginya akan mendapatkan ketenangan dengan membaca doa:Meskipun di seluruh tempat di Masjidil Haram adalah mustajabah, namun demikian ada beberapa tempat yang secara khusus dalam Al Quran dan Hadits disebutkan sebagai tempat-tempat musatajabah untuk berdoa. Tempat-tempat itu antara lain:
Tempat Mustajabah Di Masjidil Haram
1. Multazam
Multazam adalah tempat di antara Pintu Ka'bah dan Rukun Hajar Aswad. Secara harfiah Multazam bermakna tempat yang amat diperlukan. Tempat inilah yang dinytakan oleh Rasulullah SAW sebagai tempat yang paling mustajabah untuk berdoa:

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: "Multazam adalah tempat doa yang mustajab (terkabul), tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabut doanya".RAsulullah sendiri kalau sampai di tempat ini langsung menempelkan dada, wajahnya atau pipinya, kedua lengan dan kedua telapak tangannya pada Ka'bah dan meratap dalam doa.Dalam Ktab Akhbar Makkah diterangkan bahwa ketika Nabi Adam selesai melakukan thawaf (yang pertama kali) langsung ia lakukan sholat dua rakaat di depan pintu Ka'bah, terus berdiri di Multazam dan berdoa:

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui segala apa yang aku rahasiakan dan segala apa yang aku lakukan secara nyata, terimalah pengaduanku. Engkau Maha Mengetahui apayang ada dalam jiwaku dan segala apa yang ada padaku, ampunilah dosa-dosaku. Engkau Maha Mengetahui apa yang aku perlukan, berikanlah kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah, aku mohon kepada-mu iman yang memenuhi hati dan keyakinan yang mantap benar sehingga menyadarkan aku bahwa tidak ada yang mencelakakanku kecuali apa yang telah Engkau pastikan untukku, dan menyadarkan aku sehingga aku rela atas apa yang Engkau tetapkan untukku".
Setelah bedoa seperti di atas, Allah menurunkan wahyu kepadanya yang artinya: "Wahai Adam, kau telah berdoa dengan beberapa permintaan, aku penuhi semua permintaan itu. Dan siapapun dari anak-anakmu yang berdoa dengan doamu itu, pasti aku hilangkan keresahan dan kesedihannya, dan Aku kembalikan apa yang hilang dari padanya, dan Aku cabut dari hatinya perasaan miskin, dan aku jadikan kaya ia dalam kenyataan, dan aku sukseskan perdagangan untuknya dari belakang dunia perdagangan, sehingga kekayaan dunia berdatangan kepadanya walaupun tanpa ia kehendaki".
Pesan Penulis "Jika Anda Calon Jamaah Haji, dan merasa masih anak-anak dari Nabi Adam AS, Berdoalah seperti doa Nabi Adam tersebut di Multazam".
Insya Alah, Allah SWT tidak pernah ingkar janji!



Multazam adalah tempat di antara Pintu Ka'bah dan Rukun Hajar Aswad. Secara harfiah Multazam bermakna tempat yang amat diperlukan. Tempat inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai tempat yang paling mustajabah untuk berdo'a : Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Multazam adalah tempat do'a yang mustajab (terkabul), tidak seorang pun hamba Allah yang berdo'a di tempat ini tanpa terkabul do'anya."
Rasulullah sendiri kalau sampai di tempat ini langsung memanjatkan do'a.

Dalam Kitab Akhbar Makkah, diterangkan ketika Nabi Adam 'alaihi sallam selesai melakukan thawaf, beliau langsung shalat dua raka'at di depan pintu Ka'bah, kemudian berdiri di Multazam dan berdo'a.

Saat bermunajat di depan Multazam ini, jarang orang tidak meneteskan air mata di sini, terharu karena kebesaran Ilahi.

2. Hijir Ismail
Hijir ismail adalah bangunan terbuka, berbentuk setengah lingkaran berada disebelah sisi barat Ka'bah. Disebut Hijir Ismail karena merupakan tempat berteduh Nabi Ismail Dan Siti Hajar. Menurut salah satu riwayat Nabi Ismail juga dikuburkan di Hijir Isamail tersebut. Wallahu'alam. Hijir Ismail juga merupakan salah satu tempat yang mstajabah untuk berdoa. Jika Anda ingin sholat di dalam Ka'bah cukup sholat di hijir Ismail ini. Seperti sabda Nabi SAW ketika Aisyah RA minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke Ka'bah untk sholat, maka Nabi SAW membawa Aisyah ke Hijir Ismail, dan berkata " Sholatlah kamu disini, kalau ingin sholat di Ka'bah karena ini termasuk sebagian dari Ka'bah". (HR. Turmidzi).
Dalam buku Sejarah Kota Makkah disebutkan bahwa panjang Ka'bah adalah 3 meter ke arah Hijir Ismail. Dikarenakan adanya pemugaran oleh kaum Quraisy dan sifat bakhilnya saat itu maka Ka'bah menjadai lebih kecil seperti bangunan sekarang. Jadi Hijir Ismail yang masih dianggap masuk Ka'bah seperti yang ditunjukkan Rasulullah tersebut adalah 3 meter dari tembok Ka'bah yang berhadapan dengan Hijir Ismail. Panjang Hijir Ismail sekitar 7 meter dari tembok Ka'bah sampai lengkung setengah lingkaran.



Hijir Ismail adalah bangunan terbuka, berbentuk setengah lingkaran berada di sebelah sisi barat Ka'bah. Disebut Hijir Ismail karena merupakan tempat berteduh Nabi Ismail 'alaihi sallam dan Hajar.

Diriwayatkan ketika Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke Ka'bah dan shalat, maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam membawa 'Aisyah radhiyallahu 'anha ke Hijir Ismail lalu berkata, "Shalatlah kamu di sini kalau ingin shalat di Ka'bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka'bah." (HR. Turmidzi).

Dalam buku Sejarah Kota Makkah disebutkan bahwa panjang Ka'bah adalah tiga meter ke arah Hijir Ismail. Dikarenakan adanya pemugaran oleh kaum Quraisy maka Ka'bah menjadi lebih kecil seperti bangunan sekarang. Panjang Hijir Ismail sekitar tujuh meter dari tembok Ka'bah sampai lengkung setengah lingkaran.

3. Maqam Ibrahim
Maqam berarti tempat pijakan, Maqam Ibrahim adalah batu yang dipergunakan Nabi Ibrahim untuk berpijakan ketika membangun Ka'bah. Menurut salah satu riwayat, Batu ini merupakan salah satu batu yang turun dari surga seperti halnya Hajar Aswad.
Batu pijakan ini layaknya seperti tangga elevator yang bisa naik dan turun. Kketika Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, saat tembok Ka'bah ditinggikan, batu pijakan tersebut juga ikut naik.
Pada batu ini terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS. Disunahkan sholat sunah dua rakaat setelah selesai thawaf di belakang Maqam Ibrahim ini.




Maqam Ibrahim adalah batu yang dipergunakan Nabi Ibrahim 'alaihi sallam untuk
berpijakan ketika membangun Ka'bah. Pada batu ini terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim 'alaihi sallam. Disunnahkan shalat sunnah dua raka'at setelah selesai thawaf di belakang Maqam Ibrahim ini.
Tempat ini juga merupakan salah satu tempat mustajabah untuk berdo'a.

Kendati demikian, secara umum keseluruhan tempat di Masjidil Haram adalah mustajabah untuk berdo'a. Bila do'a dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dan tidak bermaksiat, Insya Allah akan dikabulkan.

Perlu juga diketahui bahwa ada do'a yang dikabulkan Allah secara langsung, ada do'a yang akan dikabulkan ketika di akhirat nanti, serta ada pula do'a yang diganti dengan kebaikan atau rejeki yang lain. Tentu harus difahami bahwa Allah subhanahu wa ta'ala mengetahui apa sebenarnya yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya jika itu memang mendatangkan kemaslahatan dan bukan sekedar apa yang diinginkan oleh hamba-Nya.

Bagi seorang hamba kita hanya wajib menyakini bahwa do'a kita akan dikabulkan-Nya. Karena Allah sudah berjanji dalam Al-Qur'an, "Ud'uuni astajib lakum." Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.


Sebagai masjid yang pertama kali dibangun di dunia, Masjidil Haram memiliki sejumlah keistimewaan. Di antaranya adalah dilipatgandakannya pahala shalat di tempat ini, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam.

Selain tiga tempat di Masjidil Haram di atas, juga terdapat tempat lain di Makkah yang mustajabah untuk berdo'a. Yaitu di bukit Safa dan Marwah, di Telaga Zam-Zam, di bawah Mizab (talang emas), di Padang Arafah, di Muzdalifah, Jabal Rahmah, dan di Mina.


Telaga Zam-Zam

 
Padang Arafah

Jabal Rahmah


Tempat ini juga merupakan salah satu tempat mustajabah untuk berdoa.Tempat Mustajabah di Masjid Nabawi. Sama halnya dengan Masjidil Haram, seluruh tempat di Masjid Nabawi merupakan tempat mustajabah untuk berdoa. Namun demikian ada juga tempat yang secara khusus disebutkan dalam hadits bahwa Raudhoh merupakan tempat yang paling mustajabah di dalam Masjid Nabawi.

Raudhoh adalah ruang diantara Mimbar dan makam Rasulullah SAW. Keutamaan tempat ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda "Diantara rumah dan mimbarku adalah taman diantara taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku".
Ada pendapat bahwa tempat ini kelak akan berpindah ke akhirat. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa rahmat dan anugrah kebahagiaan yang turun ke tempat tersebut seperti yang turun ke taman surga, disebabkan karena dzikir kepada Allah SWT yang dilakukan terus-menerus di tempat itu. Beliau menambahkan bahwa ibadah yang dilakukan di Raudhoh akan membawa pelakunya ke surga. Wallahu 'alamu..
Gambar Raudhoh

SAHABAT YANG DIJAMIN MASUK SURGA


Khalifah Ali bin Abu Thalib ra
Khalifah Keempat, Singa Allah Yang Dimuliakan Wajahnya Oleh Allah

Ketika Khalifah Uthman bin Affan ra wafat, warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat menolak penunjukan itu. Namun semua mendesak beliau untuk memimpin umat. Pembaiatan Ali pun berlangsung di Masjid Nabawi.

Nama beliau sebenarnya ialah Ali bin Abi Talib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.
Beliau dilahirkan pada tahun 602 M atau 10 tahun sebelum kelahiran Islam. Usianya 32 tahun lebih muda dari Rasulullah SAW. Saidina Ali merupakan sepupu dan merupakan menantu Baginda SAW melalui pernikahannya Fatimah. Beliau adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan kanak-kanak. Beliau telah dididik di rumah Rasulullah dan ini menyebabkan beliau mempunyai jiwa yang bersih dan tidak dikotori dengan naluri Jahiliyah.

Saidina Ali adalah salah seorang sahabat paling dekat dengan Rasul. Sewaktu kecil, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Abu Thalib, pamannya yang juga ayah kepada Saidina Ali. Setelah berumah tangga dan melihat Abu Thalib hidup kekurangan, Nabi Muhammad SAW memelihara Ali di rumahnya. Ali dan Zaid bin Haritsah - anak angkat Nabi Muhammad SAW, adalah orang pertama yang memeluk Islam setelah Khadijah. Mereka selalu shalat berjamaah.

Kecerdasan dan keberanian Ali sangat menonjol dalam lingkungan Quraisy. Saat masih kanak-kanak, beliau telah menentang tokoh-tokoh Quraisy yang mencemuh Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dan kaum Quraisy telah menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Nabi Muhammad SAW serta mengenakan mantel yang dipakai oleh Rasulullah.

Di medan perang, beliau adalah ahli tempur yang sangat disegani. Baik di perang Badar, Uhud hingga Khandaq. Namanya semakin sering dipuji setelah beliau berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasul menunaikan ibadah haji, Ali ditugasi untuk melaksanakan misi ketenteraan ke Yaman dan dilakukannya dengan baik.

Mengenai kecerdasannya, Nabi Muhammad SAW pernah memuji Ali dengan kata-kata: "Saya adalah ibukota ilmu dan Ali adalah gerbangnya." Kefasihan bicara Ali dipuji oleh banyak kalangan. Rasul SAW kemudiannya menikahkan Ali dengan puteri bongsunya, Fatimah Az-Zahra. Setelah Fatimah Az-Zahra wafat, Ali menikah dengan Ashma’, janda yang dua kali ditinggal mati suaminya, yakni Ja'far bin Abu Thalib dan Khalifah Abu Bakar.

Sebagai khalifah, beliau mewarisi pemerintahan yang sangat kacau. Juga ketegangan politik akibat pembunuhan Uthman. Keluarga Umayyah menguasai hampir semua kerusi pemerintahan. Dari 20 gabenor yang ada, hanya Gabenor Iraq iaitu Abu Musa Al-Asyari saja yang bukan dari keluarga Umayyah. Mereka menuntut Ali untuk mengadili pembunuh Khalifah Uthman. Tuntutan demikian juga banyak diajukan oleh tokoh lainnya seperti Saidatina Aisyah rha, juga Zubair dan Thalhah - dua orang pertama yang masuk Islam seperti Ali.

Kesan dari kematian Khalifah Uthman adalah amat sulit bagi Khalifah Ali untuk menyelesaikan terutamanya dalam masalah menjalankan pentadbiran. Untuk melicinkan pentadbiran, Khalifah Ali telah memecat jawatan pegawai-pegawai yang dilantik oleh Khalifah Uthman yang terdiri dari kalangan Bani Umayyah. Ini telah menimbulkan rasa tidak puas hati dikalangan Bani Umayyah.

Beliau juga telah bertindak mengambil kembali tanah-tanah kerajaan yang telah dibahagikan oleh Khalifah Uthman kepada keluarganya. Ini telah menambahkan lagi semangat kebencian Bani Umayyah terhadap Khalifah Ali. Oleh itu golongan ini telah menuduh Khalifah Ali terlibat dalam pembunuhan Khalifah Uthman.

Beberapa orang menuding Ali terlalu dekat dengan para pembunuh itu. Ali menyebut pengadilan sulit dilaksanakan sebelum situasi politik reda. Beliau bermaksud menyatukan negara lebih dahulu. Untuk itu, beliau mendesak Muawiyyah bin Abu Sufyan - Gabenor Syam, yang juga pimpinan keluarga Umayyah untuk segera berbaiat kepadanya.

Muawiyyah menolak berbaiat sebelum pembunuh Uthman dihukum. Bahkan Muawwiyah menyiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk menentang Ali. Ali pun siap menggempur Muawiyyah. Sejumlah sahabat penting seperti Mughairah, Saad bin Abi Waqqas dan Abdullah bin Umar menyarankan kepada Saidina Ali agar menunda serangan itu. Begitu juga sepupu Ali, Ibnu Abbas. Tapi Ali berkeras, sehingga Ibnu Abbas mengkritiknya.

Ali segera menyusun pasukan. Beliau berangkat ke Kufah, wilayah yang masyarakatnya menyokong Saidina Ali. Beliau meninggalkan ibu kota Madinah sepenuhnya, bahkan seterusnya, untuk langsung memimpin perang. Hal yang tak lazim dilakukan para pemimpin negara. Setahun sudah berlalu, pembunuh Uthman masih belum dihukum.

Langkah ini makin mengundang kritik dari kelompok Aisyah. Aisyah, Thalhah dan Zubair lalu memimpin 30 ribu pasukan dari Makkah. Pasukan Ali yang awalnya diarahkan ke Syam terpaksa dibelokkan untuk menghadapi Aisyah. Terjadilah peristiwa menyedihkan itu, peperangan antara kaum Muslim.

Aisyah memimpin pasukannya dalam tandu tertutup di atas unta. Banyak pasukan juga mengendarai unta. Maka perang itu disebut Perang Jamal (Unta). Sekitar 10 ribu orang tewas dalam perang sesama Muslim ini. Aisyah tertawan setelah tandunya penuh dengan anak panah. Zubair tewas dibunuh di Waha Al-Sibak. Thalhah terluka di kaki dan meninggal di Basra.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh Muawiyyah. Beliau menggantungkan jubah Uthman yang berlumur darah serta potongan jari isteri Uthman, di masjid Damaskus untuk menyudutkan Ali. Muawiyyah berhasil menarik Amru bin Ash ke pihaknya.

Amru seorang politisi ulung yang sangat disegani. Beliau diiming-imingi menjadi Gabenor Mesir. Abdullah, anak Amru yang shaleh, menyarankan ayahnya untuk menolak ajakan Muawiyyah. Namun Muhammad - anaknya yang suka berpolitik -menyarankan Amru mengambil kesempatan. Amru tergoda. Beliau mendukung Muawiyyah untuk menjadi khalifah tandingan.

Kedua pihak bertempur di Shiffin, hulu Sungai Eufrat di perbatasan Iraq-Syria. Puluhan ribu Muslim tewas. Di pihak Ali, korban sebanyak 35 ribu manakala di pihak Muawiyyah seramai 45 ribu. Dalam keadaan terdesak, pihak Muawiyyah bersiasat. Atas usulan Amru, mereka mengikat al-Quran di hujung tombak dan mengajak untuk "berhukum pada al-Quran" (Majlis Tahkim).

Pihak Ali berpecah. Sebahagian berpendapat, seruan itu harus dihormati. Yang lain menyebut itu hanyalah cara Muawiyyah untuk menipu dan menghindari kekalahan. Ali tetap mengalah. Kedua pihak berunding. Amru bin Ash di pihak Muawiyyah, Abu Musa - yang dikenal sebagai seorang shaleh dan tak suka berpolitik - di pihak Ali. Keduanya sepakat untuk "menurunkan" Ali dan Muawiyyah. Namun Amru kembali mengingkari kesepakatannya.

Situasi yang tak menentu itu menimbulkan kemarahan Hurkus - komandan pasukan Ali yang berasal dari keluarga Tamim. Hurkus adalah seorang yang lurus, berwawasan sempit dan keras. Caranya memandang masalah selalunya "hitam- putih". Dia menganggap Muawiyyah mahupun Ali telah melanggar hukum Allah. "Laa hukma illallah (tiada hukum selain Allah)," serunya. Pelanggar hukum Allah boleh dibunuh, demikianlah pendapatnya.

Kelompok Hurkus segera menguat. Orang-orang menyebut kelompok radikal ini sebagai "Khawarij" (barisan yang keluar).
Mereka menyerang dan bahkan membunuh orang-orang yang berbeza pendapat dengannya. Pembunuhan berlangsung di beberapa tempat. Mereka berfikir, negara baru akan dapat ditegakkan jika tiga orang yang dianggap penyebab masalah yakni Ali, Muawiyyah dan Amru dibunuh.

Hujaj bertugas membunuh Muawiyyah di Damaskus, Amru bin Abu Bakar bertugas membunuh Amru bin Ash di Mesir dan Abdurrahman bertugas membunuh Ali di Kufah. Muawiyyah yang kini hidup dengan pengawalan ketat seperti seorang raja selamat dari pembunuhan tersebut dan hanya terluka. Amru bin Abu Bakar tersilap dalam menjalankan tugasnya, beliau membunuh imam yang menggantikan Amru bin Ash. Di Kufah, Saidina Ali ra sedang berangkat ke masjid ketika diserang dengan pedang. Dua hari kemudian beliau pun wafat. Peristiwa itu terjadi pada Ramadhan 40 Hijrah bersamaan 661 Masihi.

Berakhirlah model kepemimpinan Islam untuk negara yang dicontohkan Rasulullah SAW. Muawiyyah lalu menggunakan model "kerajaan". Ibukota pun dipindah dari Madinah ke Damaskus.

Allahualam....

KISAH SAHABAT ALI BIN ABI THALIB

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.”
“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar.
“Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!”
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!”
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian tunggu sebentar!”
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!”
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: “Mengapa?”
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!”
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: “Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!”
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!”
“Ya baik!” jawab mereka.
“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”
“Induk kunci itu,” jawab Ali bin Abi Thalib, “ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!”
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!”
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: “Orang itu benar juga!” Mereka bertanya lebih lanjut: “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!”
“Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta,” jawab Ali bin Abi Thalib. “Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!”
Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!”
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular).”
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!”
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda.”
“Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan,” sahut Imam Ali.
“Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?” Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: “Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu.”
Pendeta Yahudi itu menyahut: “Aku sudah banyak mendengar tentang Qur’an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!”
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: “Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus.
Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana.”
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!”
Ali bin Abi Thalib menerangkan: “Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar.
Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala.”
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Imam Ali menerangkan, “mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri.”
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!”
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai “tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.”
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum.
Teman-temannya bertanya: “Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?”
“Teman-teman,” sahut Tamlikha, “hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.”
Teman-temannya mengejar: “Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?”
“Sudah lama aku memikirkan soal langit,” ujar Tamlikha menjelaskan. “Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: ‘siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?’ Kemudian kupikirkan juga bumi ini: ‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?’ Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: ‘Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius’…”
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: “Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu.
Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!”
“Saudara-saudara,” jawab Tamlikha, “baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!”
“Kami setuju dengan pendapatmu,” sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: “Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar.”
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?”
“Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!”
“Ah…, susahnya orang ini,” jawab mereka. “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?”
“Ya,” jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.”
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya.”
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: “Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, “kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: “Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t.”
Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua.”
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: “Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!”
Imam Ali menjelaskan: “Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!”
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua.
Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: “Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!”
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.”
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: “Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!”
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.”
Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!”
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.”
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”
“Aphesus,” sahut penjual roti itu.
“Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi. “Abdurrahman,” jawab penjual roti.
“Kalau yang kau katakan itu benar,” kata Tamlikha, “urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!”
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!”
Imam Ali menerangkan: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!”
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!”
“Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!”
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?”
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita tentang orang ini?”
“Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.”
Tamlikha menjawab: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”
“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”
“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertai aku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu.
Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “Inilah rumahku!”
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
“Aku Tamlikha anak Filistin!”
Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka.” Kemudian diteruskannya dengan suara haru: “Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!”
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?”
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.
“Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!”
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!”
Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?”
“Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka.
“Tidak!” sangkal Tamlikha.
“Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!”
Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?”
“Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya.
“Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!”
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.”
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.”
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.”
Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?”
Pendeta Yahudi itu menjawab: “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!”
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.
 pedang milik Sahabat Ali Bin Abi Thalib
TERBUNUHNYA ALI BIN ABI THALIB

 yang mendapatr adalah menantu Rasulillah t‘Ali bin ‘Abi Thalib  nama kehormatan (kuniyyah) Abu Turab (Bapaknya tanah) dari Rasulillah . Abur Turab adalah panggilan yang paling disenangi oleh ‘Ali karena nama  yang mulia. Iaekehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi  dibai’at menjadi Khalifah pada hari Jumat tanggal 25 Dzul-Chijjah tahun 35 Hijriyyah (4 Juni 656 M).
:
eSabda Nabi
“لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ -
"Niscaya besok pagi bendera ini akan saya berikan pada seorang lelaki yang telah diberi kemenangan karena usahanya. Ia dicintai Allah dan Utusan Allah dan utusan Allah juga mencintainya”.

Pada masa perang Khaibar bulan Shafar tahun tujuh Hijriyah dia telah menjadi tokoh utama bagi umat Islam pada umumnya. Setelah sabda yang menggiurkan tersebut terucap, para shahabat membicarakan siapa orang beruntung yang akan mendapatkan kehormatan tersebut. Setelah itu mereka semua berambisi menjadi tokoh agung tersebut.

 yang tidak pernah
tDi suatu pagi yang indah semua sahabat termasuk Umar ingin menjadi pemimpin, berkeinginan untuk terpilih. Ternyata Ali bin  lah yang menerima kesempatan besar tersebut. Ali bin AbitAbi Talib   juga dianugerahi karena telah membunuh Talha ibn' Uthman ditTalib  perang Uhud pada bulan Syawal tahun 3 (tiga) Hijriyyah (Januari 625 M)
خرج طلحة بن عثمان صاحب لواء المشركين وقال: يا معشر أصحاب محمد إنكم تزعمون أن الله يعجلنا بسيوفكم إلى النار ويعجلكم بسيوفنا إلى الجنة، فهل أحد منكم يعجله سيفي إلى الجنة أو يعجلني سيفه إلى النار ؟ فبرز إليه علي بن أبي طالب، فضربه علي فقطع رجله، فسقط وانكشفت عورته، فناشده الله والرحم فتركه، فكبر رسول الله، صلى الله عليه وسلم، وقال لعلي: ما منعك أن تجهز عليه ؟ قال: إنه ناشدني الله والرحم فاستحييت منه –
Talha bin 'Uthman pembawa bendera kaum musyrik berkata," Wahai para golongan sahabat Muhammad, engkau yang berkeyakinan bahwa Tuhan akan mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian, dan mempercepat kamu ke surga melalui pedang kami. Sekarang siapakah yang sanggup mempercepat diri kalian ke Surga karena pedang kami atau mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian? Ali akhirnya menerima tantangan tersebut, bergerak cepat memukul mematahkan kakinya. Ia jatuh hingga terlihat auratnya karena kain yang ia kenakan tersingkap, dan memohon kepada Ali agar takut kepada Allah dan meminta-minta menjadi sahabatnya, lalu Ali  memekikan takbirrmeninggalkannya. Tiba-tiba Nabi demi melihat pemandangan tersebut dan bertanya,"Apa yang membuatmu tidak ,"Ia memohon-mohon padaku untuktmenghabisinya? Ali menjawab memperhatikan Allah dan keluarga kami, sehingga saya merasa enggan".[Al-Kamil fit-Tarikh 1 / 294]

Thabrani murid Achmad bin 'Ali Abu al-Abbar murid Umayyad murid Uthman ibn' Abdir-Rahman murid Isma'il ibn Rashid bercerita tentang kematian  , yang bertepatan dengan hari Jum'at 17 Ramadan
t'Ali ibn' Abi Talib  tahun 40 Hijriyyah (24 January 661M): Konon termasuk Hadits Ibnu Muljam dan shahabat-shabatnya yang dilaknat Allah ialah: Memang ‘Abdur-Rahman bin Muljam, Al-Barku bin ‘Abdillah dan ‘Amer bin Bakr At-Taimi mengadakan pertemuan di Makkah untuk membahas tentang ihwal masyarakat umum dan mencela perbuatan tokoh-tokoh besar Muslimiin. Pembicaraan tersebut berkembang ke arah pembahasan kepedulian mereka pada penduduk . Mereka berkata, “Demitkota Nahar yang dulu pernah diperangi ‘Ali  Allah kita ini belum berjasa sebanyak tokoh-tokoh (Khawarij) yang telah mendahului kita. Tokoh-tokoh pendahulu kita telah menjadi dai yang mengajak orang-orang agar beribadah pada Tuhan mereka, dan di dalam beribadah mereka tidak takut caci-makian orang mencaci-maki. Hendaklah kita-kita ini mengorbankan diri-kita dengan cara mendatangi dan memastikan tokoh-tokoh besar Muslimiin terbunuh, sebagai upaya agar penduduk-kota kita tidak dendam dan agar dendam pendahulu kita terbalas. Ibnu Muljam yang konon sebagai penduduk Mesir berkata, “Sayalah yang .” Al-Barku bintmembereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Ali  ‘Abdillah berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.” ‘Amer bin Bakr At-Tamimi berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Amer bin ‘Ash.”
Tiga orang yang terancam kematiannya ini tokoh besar ummat Islam yang saat itu namanya menggetarkan dunia karena saat itu zaman kejayaan Islam:
  1. ’Ali bin A sebagai Khalifah yang sangat agung.tbi Thalib
  2. Mu’awiyyah sebagi Gubernur yang sangat berpengaruh karena pernah .rmenjadi sekretaris Rasulillah
  3. ‘Amer bin ‘Ash orang yang pernah diangkat sebagai panglima perang oleh Abu Bakr, bahkan tergolong Umara’ul-Ajnad (semacam jendral besar).
Mereka bertiga membuat persekongkolan dan perjanjian rahasia yang diikat dengan sumpah demi Allah tak seorangpun dari mereka mem-batalkan rencananya sehingga berhasil membunuh sasaran mereka masing-masing atau mati karena rencana gila tersebut. Mereka bertiga mengambil pedang untuk diberi racun, dan membulatkan perjanjian bahwa masing-masing mereka bertiga akan menyerang korban mereka tanggal 17 Ramadhan. Mereka bertiga pergi ke kota yang dihuni oleh sasaran mereka masing-masing.

Ibnu Muljam Al-Muradi mendatangi sahabat-sahabatnya berada di kota Kufah, namun ia menyembunyikan rencananya karena takut akan ada yang mengetahuinya. Ibnu Muljam juga mendatangi teman-temannya dari keluarga besar Taimir-Rabab, yaitu sebuah keluarga besar yang pada zaman perang An-Nahar banyak yang mati terbunuh. Keluarga besar Taimir-Rabab membicarakan dan mengasihani keluarga mereka yang meninggal dalam peperangan tersebut. Kebetulan saat itu muncul seorang wanita bernama Qatham binti Sachnah dari keluarga besar Taimir-Rabab yang memendam  karena telah membunuh ayah dan saudara laki-lakinya
tdendam pada ‘Ali  dalam perang Nahar tersebut. Konon kecantikan Qatham binti Sachnah luar biasa (sempurna). Karena kecantikan Qatham binti Sachnah lah maka ia lupa dengan tujuan semula (tersihir). Ibnu Muljam melamar Qatham binti Sachnah. Qatham binti Sachnah menjawab, “Saya tidak akan menikah sehingga kau bisa mengobati sakit-hatiku.” Ibnu Muljam bertanya, “Sebetulnya apa yang kau inginkan?.” Ia menjawab, “Tiga ribu dinar dan !.” Ibnu Muljamtbudak laki-laki dan biduanita dan bunuhlah ‘Ali  berkata, “Berarti ini sebagai maskawin untukmu. Namun apa betul kamu ingin ‘Ali dibunuh?.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Ayyasy Al-Muradi berkata, “
وَلا مَهْرَ أَغْلَى مِنْ عَلِيٍّ (Sebetulnya tidak ada maskawin yang lebih mahal ).”tdari pada membunuh ‘Ali bin Abi Thalib

Ia menjawab, “Betul!. Pastikan pembunuhan tersebut pada waktu-bulan-ghurrah (sekitar tanggal 15)!. Jika kau berhasil maka kita berdua puas, selanjutnya kita berdua hidup berbahagia penuh manfaat. Namun jika kau yang mati terbunuh, maka yang di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya.” Ibnu Muljam berkata, “Sebetulnya kedatanganku kemari memang bertujuan membunuh dia.” Ia menjawab, “Jika tekadmu telah bulat kabarilah saya, saya akan menyuruh orang agar membantu dan mendukungmu.” Akhirnya Qatham perintah lelaki dari keluarganya yang menyanggupinya bernama Wardan. Ibnu Muljam mendatangi lelaki (shahabat karibnya) dari keluarga besar Asyja’ bernama Syabib bin Najdah untuk berkata, “Bukankah kau mau mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat?.” Ia menjawab, “Apa maksudmu?.” Ibnu Muljam .” Ia menjawab, “Kau ini gila.
لَقَدْ جِئْتَtmenjawab, “Membunuh ‘Ali  شَيْئًا إِدًّا – Niscaya kau telah melakukan kegilaan yang nyata. Apa mungkin kau bisa membunuh dia?.” Ibnu Muljam berkata, “Saya akan bersembunyi di waktu sahur. Jika ia telah keluar rumah untuk mengimami shalat shubuh, maka saat itu juga kita serang dan kita bunuh. Jika dalam rencana ini kita selamat maka kita puas dan dendam kita telah terbalas, namun jika kita mati maka pahala di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya. Ia berkata, “Kau memang harus kubantu. Tapi kalau rencana ini ditujukan pada selain ‘Ali niscaya urusannya lebih ringan bagiku. Karena saya tahu sepenuhnya bahwa jasa dia di dalam Islam sangat besar. Ia juga termasuk shahabat  yangeNabi  awal. Terus terang dalam hal ini saya merasa keberatan. Ibnu Muljam berkata, “Bukanakah kau sendiri tahu bahwa dia yang memerangi penduduk Nahar yang tekun beribadah dan shalat?.” Ia menjawab, “Betul.” Ibnu Muljam berkata, “Kita membunuh dia karena membalaskan saudara-saudara kita yang dia bunuh saat itu.” Setelah Syabib bin Najdah menyetujuinya, mereka bertiga segera berpamitan, “Kami semua telah mufakat akan ,” pada Qatham yang saattmembunuh ‘Ali  itu sedang i’tikaf di dalam Masjid Agung. Qatham menjawab, “Jika kalian telah siap berangkat datanglah kemari lagi!.” Ibnu Muljam datang untuk berkata pada Qatham, “Saya dan dua teman saya telah berjanji akan bahwa masing-masing kami akan membunuh seorang tokoh besar.” Tak lama kemudian Qatham minta kain sutra untuk dibalutkan pada mereka bertiga, (mungkin untuk memberi mereka support).

Mereka bertiga mengambil pedang mereka masing-masing lalu selanjutnya berangkat menuju depan pintu yang biasanya dipergunakan keluar oleh ‘Ali . Akhirnya ‘Ali keluar untuk mengimami shalat shubuh sambil berkata,
t “Shalat shalat.” Syabib bin Najdah bergerak cepat menyerang ‘Ali dengan pedang, namun pedangnya menghantam gawan pintu atau ornament. Ibnu Muljam bergerak cepat memukul ujung kepala ‘Ali dengan pedang.

Wardan berlari cepat pulang ke rumahnya; dikejar anak laki-laki ibunya. Lelaki tersebut memasuki rumah Wardan di saat Wardan sedang melepas kain sutra dan meletakkan pedangnya. Lelaki tersebut bertanya, “Ada apa dengan kain sutra dan pedang ini?.” Wardan terpaksa berterus terang padanya. Lelaki tersebut bergegas pulang ke rumah untuk mengambil dan menebaskan pedangnya hingga Wardan mati.

Syabib melarikan diri ke arah pintu-gerbang-pintu-gerbang kota Kindah dikejar masya. Syabib roboh bersimbah darah karena kakinya dipedang dan dibanting oleh ‘Uwaimir dari Chadhramaut. Ketika masya pengejar Syabib telah makin dekat; saat itu Syabib telah menguasai pedangnya. ‘Uwaimir membiarkan Syabib kabur dan memasuki kerumunan masya dari pada dirinya terkena serangannya.

Ibnu Muljam jatuh saat melarikan diri dari kejaran lelaki dari Hamdan yang biasa dipanggil Aba Adama karena kakinya dipatahkan dengan pedang  mendorong punggung
جَعْدَةَ بن هُبَيْرَةَtoleh lelaki tersebut. ‘Ali  بن أَبِي وَهْبٍ (Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahb) agar mewakili mengimami jamaah shalat shubuh; sebagaian jamaah berlarian dari segala penjuru untuk menyerang Ibnu Muljam.

Sejumlah orang melaporkan bahwa Muhammad bin Chunaif berkata: “Demi Allah, di malam ‘Ali bin Abi Thalib dipedang; saat itu saya shalat bersama lelaki-lelaki kota tersebut di dalam Masjid Agung tersebut, yaitu di dekat pintu-keluar rumah ‘Ali menuju Masjid. Di antara mereka ada yang sedang berdiri, ada yang sedang rukuk, ada yang sedang sujud. Mereka tak bosan-bosan melakukan shalat sejak awal hingga akhir malam.  keluar pintu untuk mengimami shalat shubuh sambil
tTiba-tiba ‘Ali  menyerukan, “Shalat shalat.” Saya sendiri tidak tahu apakah lebih dulu ia mengucapkan kalimat tersebut ataukah duluan kulihat pedang-pedang mengkilap. Saya mendengar, “الْحُكْمُ للَّهِ ، لا لَكَ يَا عَلِيُّ وَلا لأَصْحَابِكَ (Tiada hukum kecuali kekuasaan Allah, bukan hakmu ya ‘Ali, dan bukan hak shahabat-shahabatmu).” Lalu kulihat pedang berkelebat.  perintah, “JangantLalu kulihat masya berdatangan. Saya mendengar ‘Ali  sampai lelaki itu lepas!.” Sejenak kemudian masya dari segala penjuru berlari cepat mengejarnya. Saya berada di dalam lokasi tersebut hingga .tIbnu Muljam tertangkap dan dimasukkan ke rumah ‘Ali bin Abi Thalib 

 mengikuti orang-orang. Tiba-tiba saya
tSaya memasuki rumah ‘Ali   berkata, “النَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، إِنْtmendengar ‘Ali bin Abi Thalib  هَلَكْتُ فَاقْتُلُوهُ كَمَا قَتَلَنِي (Jiwa dibalas dengan jiwa. Jika saya mati maka bunuhlah dia sebagaimana memedangku)!. Namun jika saya masih hidup, maka telah punya pandangan sebaiknya dia diapakan?.” Di saat Ibnu Muljam dibawa masuk ke rumah ‘Ali; ‘Ali bertanya, “Ya musuh Allah, bukankah saya telah berbuat baik padamu?, bukankah saya telah memperlakukan kamu dengan baik?.” Ia menjawab, “Betul.” ‘Ali bertanya, “Lalu apa yang mendorongmu melakukan ini?.” Saya telah mengasah pedangku selama empat puluh shubuh lalu berdoa agar Allah membunuh sejelek-jelek makhluq-Nya dengan pedang ini.” ‘Ali berkata, “Saya yakin kamu akan mati terbunuh dengan pedang ini, dan kamu termasuk makhluq Allah paling jelek.” Konon dua tangan Ibnu Muljam diikat erat hingga belikat di depan Chasan.

Tiba-tiba putri ‘Ali bernama Ummu Kultsum menangis, “Hai musuh Allah, ayahku tidak apa-apa; sementara kamu akan dihinakan oleh Allah.” Ibnu Muljam menjawab, “Kenapa kau menangis?. Demi Allah pedang itu kubeli seharga seribu (dinar), dan telah kuberi seribu racun.
Kalau pukulan pedangku ini melukai seluruh penduduk kota ini pasti mereka tidak mampu bertahan hidup satu jam pun. Namun ayahmu masih juga hidup hingga saat ini.” ‘Ali berkata pada Chasan, “Jika aku bertahan hidup, aku telah mempunyai perhitungan. Namun jika aku mati karena pukulan pedang ini, maka pukullah dengan pedang sekali saja, jangan kau siksa. Sebab sungguh  melarang menyiksa meskipun padaraku pernah mendengar Rasulallah  anjing buas.” Sebuah riwayat menjelaskan bahwa Jundub bin ‘Abdillah memasuki rumah ‘Ali untuk memohon, “Jika kami kehilangan tuan, maka kami  menjawab, “Yang initakan berbai’at pada Chasan.” ‘Ali bin Abi Thalib  saya tidak perintah dan tidak melarang, kalian yang lebih tahu.”

 perintah agar Ibnu
t telah wafat; Chasan tKetika ‘Ali bin Abi Thalib  Muljam dibawa masuk ke rumahnya. Ibnu Muljam berkata ketika telah masuk ke rumah Chasan, “Bolehkah saya minta sesuatu?, demi Allah sejak dulu jika saya bersumpah pada Allah pasti saya laksanakan. Saya pernah bersumpah pada Allah akan membunuh ‘Ali dan Mu’awiyyah, atau saya mati saat menyerang mereka berdua. Jika kau setuju lepaskanlah saya agar membunuh dia. Saya bersumpah pada Allah jika saya gagal membunuhnya, saya akan menyerahkan tanganku pada tanganmu.”

Sepertinya Ibnu Muljam yakin sepenuhnya bahwa Chasan sangat benci Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, sehingga ia menawarkan jasa membunuh Mu’awiyyah agar Chasan mau melepaskannya.

 menjawab, “Demi Allah tidak bisa, atau kamu akan menyaksikan
tChasan   perintah agar Ibnu Muljam diajukan untuk dibabattneraka.” Chasan  kepalanya dengan pedang. Selanjutnya mayat tersebut dimasukkan dalam bawari (tempat). Tak lama kemudian masya membakarnya dengan api. Sebelum  telah berpesan, “Ya keluarga besartitu ‘Ali bin Abi Thalib  ‘Abdul-Muthalib, jangan sampai terjadi suatu saat nanti saya menjumpai kalian berkecimpung dalam darahnya Muslimiin hanya karena beralasan ‘ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh, ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh. Ingat, tidak boleh ada yang dibunuh kecuali orang yang telah membabatkan pedangnya padaku!.”
Luar biasa, di saat kemarahan  di puncak, ia masih
t‘Ali bin Abi Thalib  bisa berbicara dengan arif dan bijaksana. Sebetulnya wasiat terakhir sebelum wafatnya panjang dan indah luar biasa. Pantaslah jika Rasulullah  pernah bersabda, “يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُr وَرَسُولُهُ (Ia cinta Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya cinta dia).”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More